Minggu, 27 Februari 2022

Apa itu Hipotermia ???

  HIPOTERMIA

        Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh menurun drastis hingga di bawah 35oC. Ketika suhu tubuh berada jauh di bawah normal (37oC), fungsi sistem saraf dan organ tubuh lainnya akan mengalami gangguan. Menurut Hardisman (2014), hipotermia di definisakan bila suhu inti tubuh menurun hingga (35oC) atau dapat lebih rendah lagi.  

A.      Penyebab Hipotermia

      Hipotermia terjadi ketika panas yang dihasilkan tubuh tidak sebanyak panas yang hilang. hal ini kerap terjadi bila bepergiaan atau berada di tempat digin, tidak menggunakan baju yang tebal saat    cuaca dingin, memakai baju/pakaian basah yang terlalu lama, dan berendam di dalam air terlalu lama    pada suhu rendah. 

Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami hipotermia, yaitu:

  • Usia. Hipotermia rentan dialami oleh bayi dan lansia.
  • Kelelahan.
  • Gangguan mental, misalnya demensia.
  • Konsumsi alkohol dan NAPZA.
  • Konsumsi obat-obatan untuk depresi dan obat penenang.
  • Hipotiroidisme, radang sendi, stroke, diabetes, dan penyakit Parkinson.

B.       Gejala Hipotermia

Sering kali pertama yang muncul gejala hipotermi pada seseorang yaitu badan gemeter yang disertai menggigil, pandangan mata terganggu, pernapasan yang lebih cepat karena badan gemetar, perasaan melayang dan adanya reaksi maniak terhadap rangsangan cahaya yang lambat (Verina Rina Cho, 2019).

Gejala hipotermia menurut tahapannya

a.    Ringan

Suhu tubuh menurun hingga 32,2°C–35°C. Muncul gejala berupa tekanan darah tinggi, tubuh menggigil, detak jantung dan pernapasan menjadi cepat, pembuluh darah menyempit, kelelahan, dan kurang koordinasi.

b.   Sedang

 

Suhu tubuh berkisar antara 28°C–32,2°C. Pada suhu ini, tingkat kesadaran semakin turun, detak jantung tidak teratur, pupil mata melebar, tekanan darah menjadi rendah, dan refleks mulai menurun.

 

c.    Berat

 

Suhu tubuh kurang dari 28°C tergolong sebagai hipotermia berat. Pada suhu ini, muncul gejala berat seperti sesak napas, pupil tidak reaktif, gagal jantung, edema paru, dan detak jantung berhenti.

 

Seiring menurunnya suhu tubuh, penderita akan berhenti menggigil dan akan menjadi bingung, mengantuk, dan kaku. Denyut jantung melemah dan menjadi tidak teratur.

 

C.            Komplikasi

Respons pertama tubuh untuk menjaga suhu agar tetap normal (37˚C) adalah dengan gerakan aktif maupun involunter seperti menggigil. Pada awalnya kesadaran, pernapasan, dan sirkulasi juga masih normal. Namun, seluruh sistem organ akan mengalami penurunan fungsi sesuai dengan kategori hipotermia. Komplikasi berat seperti fibrilasi atrium akan terjadi apabila suhu inti tubuh kurang dari 32˚C. Namun bila belum ada tanda instabilitas jantung, kondisi ini belum memerlukan penanganan khusus. Risiko henti jantung kemudian akan meningkat apabila suhu inti tubuh menurun di bawah 32˚C, dan sangat meningkat apabila suhu kurang dari 28˚C (konsumsi O2 dan frekuensi nadi telah menurun 50%) (Tanto, 2014).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar