Black and Light in my Live
Penulis
“Dyah Ayu Kinanti”
***
Hidup
terkadang tak ada yang baik-baik saja, semua membutuhkan perjuangan keras
hingga dimana pernah mencapai titik batas ketegarannya masing-masing
Berawal...
ketika aku merasa terpuruk karena merasa gagal setiap kali interview disuatu
pekerjaan. Tak ada yang mau memberikan aku kesempatan, yah... mereka semua
begitu meremehkan aku hanya karena aku tak memiliki kerabat ataupun keluarga
yang bekerja di Rumah Sakit itu. Tak hanya satu, tapi beberapa tempat yang aku
datangi pun begitu. Disitulah aku berfikir Keadilan seperti apa ini, ketika
kamu tidak memiliki kerabat atau orang dalam sebutannya, kamu tak akan bisa di
terima diInstitusi tersebut. Dan kebalikan pula jika kamu memiliki keerabat
atau kenalan kamu akan denganmudah lolos dan di terima menjadi karyawan mereka.
Suatu
hari aku memutuskan untuk kembali pulang kerumah kedua orangtuaku. Disitu aku
bekerja keras lagi dalam belajar untuk persiapan interview kembali. Dan kedua
orangtuaku selalu berdoa dan mensupport apapun yang aku lakukan asalkan itu
masih baik-baik saja. Perjalanan aku dalam mencari pekerjaan tidaklah mudah,
kesana kemari aku lalui. Bahkan aku pernah bekerja disuatu pustu (puskesmas
pembantu) di dekat daerah ku, dan disana aku bekerja hanya selama 6 bulan saja
karena ada suatu hal yang membuat aku harus keluar dari sana. Kemudian aku
mulai mendapatkan pekerjaan baru di bidan praktek mandiri sebagai asisten bidan
dan disana aku hanya bekerja selama 3 bulan,
karena aku mendapat panggilan interview dari rumah sakit petrokimia di
Surabaya. Yang mengharuskan aku untuk segera kesana,dan aku tidak mendapatkan
ijin cuti untuk seminggu, jadi mengharuskanku keluar dari pekerjaan itu.
Berangkat
aku keesokan harinya menuju surabaya namun perjalanan Lampung-Surabaya
membutuhkan waktu sehari semalam di tempuh dengan bus, tetapi di perjalanan
banyak sekali halangan yang membuat saya semakin lama sampai ke surabaya tidak
tepat seperti perkiraan saya. Alhasil saya terlambat mengikuti tes interview
dan saya dinyatakan gagal dalam testersebut. Itu adalah pukulan hebat yang
menimpaku, membuat aku sangat frustasi dan menyalahkan keadaan disekitarku.
Ayahku menyuruh aku untuk berlibur disurabaya sambil menenangkan fikiran dan
sebulan kemudian saya kembali ke rumah untuk mempersiapkan petualangan lagi
dikota yang berbeda. Dan saya mendapat restu dari ayah ibuku untuk merantau ke
kota Jakarta, kota metropolitan yang katanya disana banyak sekali oorang-orang
yang dari desa mengadu nasib disana. Jujur aku awalnya takut karena banyak
sekali berita yang menayangkan kejahatan di kota itu. Tetapi itu tak
menyurutkan keinginanku, kemudian besoknya aku berangkat sendirian kekota itu
menuju stasiun pasar senen, dan ternyata sudah ada yang menunggu kedatangan aku yaitu tante dan
om, adik dari mami tercinta.
Mungkin lewat perantara tante aku akhirnya bisa
bertemu dengan Jagat’Arsy.
Mungkin kalian berfikir apa sih jagat’arsy itu ???
Aku juga awalya bertanya-tanya ada apa sih dengan
jagat arsy itu?
Ternyata
Jagat’Arsy itu adalah nama sebuah tempat pesantren modern di daerah BSD, lebih
tepatnya itu di Nusa Loka. Ternyata didalam komplek perumahan berdiri sebuah
pesantren modern yang sangat diperlukan
sekali untuk di lingkungan sibuk nan padat kawasan industri. Masih sangat
kuingat jelas pertama kali aku memasuki gerbang kayu yang terbentang panjang di
depan hatiku tiba tiba menderu dengan cepat. Bismillahirrahmanirrahim adalah
kata yang terucap keluar dari mulut ku. Sambil membawa map yang berisi surat
lamaran, aku meyakinkan diri untuk tetap stay cool memasuki ruangan office dan
bertemu dengan bagian administasi, lalu di panggilnya HRD dan mulailah aku
diinterview dengan 2 orang sekaligus lalu tak lama ada seorang wanita yang
sangat dihormati dan dipanggil dengan sebutan ambu jagat itu juga ikut
memberikan pertanyaan keopada ku mengenai kesehatan dan obat-obatan.
Hufft...
lega rasanya selesai interview dan besoknya saya sudah boleh mulai bekerja.
Keesokan
harinya aku memulai pengalamanku pertama kali menjadi seorang Nurse di
pesantren. Ternyata itu tak mudah, terkadang anak-anak sakit ketika jam off ku
berlangsung atau tengah malam ketika aku ingin beristirahat tetapi masih harus
mengobati penyakit mereka. Bulan pertama banyak sekali yang aku pelajari
dipesantren ini, yang awalnya sering telat sholatnya disini di wajibkan untuk
awal waktu dalam beribadah. Tidak hanya itu aku juga belajar mengenai dzikirnya
yang benar jika dilakukan dengan yakin dan ketenangan itu akan membuat hati ini
tenang dan lembut. Dan ternyata sholat sunnah yang awalnya hanya tahu sholat
tahajud dan dhuha,aku mengetahui beberapa sholat sunnah lainnya.
Bersyukurlah
aku dapat mengenal jagat’arsy, yang namanya kehidupan adakalanya lika liku.
Abah dan Ambulah yang menjadi penyemangat aku disini. Kebaikan abah dan ambu
tak akan bisa terbalas dengan apapun. Jika bukan karena petuah petuah dari abah
jagat yang selalu mengajarkanku untuk bersabar, lebih memperbanyak berdzikir
dan tetap memaafkan kesalahan orang yang membenci kita, mungkin saya tidak bisa
bertahan hingga sejauh ini di pesantren jagat’arsy. Juga ambu yang selalu
memberikan support dan perhatian lebih kepada seluruh coach yang ada disini.
Kekeluargaan yang terasa di pesantren ini membuat aku sangat nyaman, karena
semuanya saling membantu satu sama lain. Banyak hal yang dapat dipelajari
disini mulai dari bahasa, amaliah, cara mendidik anak – anak, mengatur emosi
dalam berkata-kata, cara memahami perilaku anak, dan belajar mengenai toriqoh. Menjadi
nurse dipesantren ini memang harus membutuhkan banyak kesabaran dalam
menghadapi anak-anak. Karena memenag tidak mudah, namun dengan semakin aku
mendekatkan diri kepada ALLAH SWT dan sabar aku masih bekerja di tempat ini
dengan tanggungjawab menjga kesehatan para santriku. Disini membuat aku lebih
kuat dalam mengahadapi masalah dan membuat hidupku seakan lebih terang daripada
sebelum aku lebih mengenal toriqoh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar